Aku suka backsoundnya Kings of Convenience - Mrs. Cold
Yang ini, nemu aja di you tube
Singapore airlines double deck yang saya naiki dari Singapore mendarat di Narita Airport. Terminal 1, south wing. Bandara Narita menjadi bandara tersibuk sebagai keluar masuknya pesawat internasional. Narita - Tokyo kurang lebih 60 KM. Banyak angkutan yang bisa kita pergunakan untuk menuju Tokyo. Ada kereta, limousine bus, taxi, sampai helikopter. Kalo untuk helikopter turunnya di daerah Rappongi.
Sebelum berangkat kita sarapan ke dua kalinya di Yoshinoya. Tinggal ngesot ke sebelah hotel. Yoshinoya di setiap sudut Tokyo dengan mudah di temukan. Kalo di Indonesia adanya cuman di Grand Indonesia :p
Lalu kita naik taksi menuju terminal bis. Beli tiket masuk Disneyland lewat mesin. I didn't get it how to buy it. Pusing ngeliat kanji. Jadi tugas beli membeli tiket saya serahkan pada pak Suhe dan Machiko. Ya iyalah :p Harganya 5.800 yen (kurs: 100) Rp 580.000,-
Ada cerita yang rada norak nih. Kami ke Disneyland kan naik bus double deck. Saya dan Yutan duduk depan sendiri di lantai dua, eh, rada bingung kok sebelah kami bukan pak sopir ya?! Ya iyalah. Walau judulnya double deck tetep aja sopirnya cuman satu dan adanya di lantai satu. *.plaakkk


Akhirnya, sampai juga di Disneyland. Yang semula langit mendung berubah cerah ceria. Malah matahari lagi lucu-lucunya. Ya iyalah summer gitu. Rada menyesali diri. Kenapa cuman pake SPF 16.










Sampailah kita di Shibuya. Dari exit sign udah nampak Jelas kalo Hachiko itu kondang guli-gulindang.


At the end of the day. Dinner di daerah Rappogi. Rappogi itu heaven to others. Embassies, foreign companies ngumpul di sini. "High-touch Town", uhm...international district lah. Daerah up-town. Di sanalah Tokyo Tower berada.

Lihat atas kepala Adam. Betul. Itu Tomat sodara-sodara. Tomat yang terbatas usianya karena tanah yang keras sehingga akarnya tak kuat menahan hidup. Otsuka menciptakan tangki dengan -ga tahu namanya, tapi tanah kayak sabut-sabut-. See, coba saja jika kita puas dengan gaya menanam konvensional.
What do you think? Kalo saya melihatnya ini tentang paradigma. Paradigma sesuatu yang kita percayai baik. Sukar bagi kita mengatakan 1+1=4. Tapi paradigma harus menyesuikan dengan jaman sehingga dunia di atasnya bisa seimbang. Membengkokkan paradigma tidak gampang. Butuh tahunan. Begitu juga dengan pohon itu.


- Bidet: Cleaning your genitals.
- Flushing sound: To disguise those disgusting sounds when you pass motion :p
Ini saya temukan juga di kamar hotel. Saya rada takut kalo kecipratan air, pantat saya bisa burning karena kesetrum. Nggak lucu, kan...kalo ada headline "INDONESIAN DIED WITH BURNING BUMBUM" ~_~
Ini toilet di dalam ZARA. No english. Heal yeah!!! T_T

Dan tentu saja Otsuka Museum. Otsuka Museum didirikan oleh Otsuka Farmasi dalam rangka memperingati HUT mereka ke 75. Di museum ini terdapat 'copy-an' lukisan dari seluruh penjuru dunia. Michelangelo, Picasso, Monet dan banyak lagi. Kenapa di'copy'? karena kebutuhan education. Sangat sulit bagi pelajar Jepang untuk travel ke Paris, Vatican demi kepentingan seni. Uniknya, itu lukisan di-copy di atas keramik. Jadi mau megang, boleh. Tapi, detail retakannya juga terdeteksi. Mirip sama aslinya.
Sangat suka dengan Sistine hall (Cappella Sistina) by Michelangelo. Lukisan berdasarkan sejarah manusia pertama di bumi. Story of genesis in the bible's old testament. Cantik sekali. Suatu saat saya harus ke vatican ^_^
Kalo yang ini Cappella degli scrovegni by Enrico Scrovegni. Dengan musik gospel. Huhuhu...adem begitu. Eh, di sini juga bisa dilangsungkan pernikahan, lho. Tapi dibatasi 2 pasangan saja tiap bulannya.
Yang nempel di museum
Hadiah dari Otsuka. Aku suka sekali ^_^