Kamis, 19 Mei 2011

Source Code


Source Code adalah film mikir penuh sensasi dipadu aksi ilmiah yang menggali unsur-unsur metafisik, filosofis, dan emosional alam semesta alternatif. Ketika film-film sebelumnya banyak mengisahkan seputar perjalanan waktu, Source Code menerobos ruang waktu ke alam semesta paralel, di mana Anda dapat mengulang dan memutar kembali skenario berulang-ulang, untuk menghasilkan perubahan di alam semesta kita sendiri.

Pada awal film, penonton didorong masuk ke dalam dunia Kapten Colter Stevens (Jake Gyllenhaal) yang terasa bagaikan anak baru lahir, tersesat dan tidak tahu apapun. Colter menemukan dirinya dalam situasi yang aneh, sedang naik kereta komuter Chicago namun tidak ingat siapa dirinya atau bagaimana ia bisa sampai di sana.

Christina (Michelle Monaghan), perempuan yang duduk di hadapannya, bertingkah seolah-olah mereka sudah saling kenal selama beberapa waktu, namun Colter merasa seolah-olah mereka baru saja bertemu. Namun yang lebih aneh lagi, setelah delapan menit, kereta meledak dan Colter terbungkus dalam satu ruang sempit di mana akhirnya Colter menemukan dirinya terlibat dalam proyek yang disponsori pemerintah bernama Source Code.

Proyek ini memungkinkan dia untuk memakai tubuh dan identitas orang lain di alam semesta paralel, tapi hanya untuk delapan menit terakhir kehidupan orang ini. Pada misi khusus ini, tugas Cloter adalah menemukan dan menghentikan pelaku bom kereta Chicago sebelum serangan teroris berikutnya. Melalui tiap upaya delapan menit, ia menyingkap lebih banyak petunjuk dari orang-orang dalam kereta dan kian jelas menguak identitas teroris. Tetapi akankah ia mampu menggagalkan pengeboman dan akhirnya mencegah jutaan orang dari kematian?

Konsep menarik tentang pengorbanan, tugas, dan berharganya hidup. Terlepas apakah Anda hanya memiliki delapan menit sisa hidup atau berapa pun, ini mengenai bagaimana Anda menghargai dan menghabiskan setiap saat dalam hidup yang diperhitungkan.

Tema menyeluruh lain yang dieksplorasi dalam Source Code termasuk gagasan alternatif dan realitas alam semesta, moralitas riset militer, dan melakukan sesuatu yang benar, bahkan jika pada akhirnya akan melibatkan pengorbanan.

Film ini memang mikir. Sekaligus memaksa saya untuk merenungkan kehidupan saya sendiri. Apakah saya sudah menghargai setiap detik karuniaNya?

0 komentar: