Jumat, 25 Maret 2016

Kerapian dan Kebahagiaan


Kemarin Logan berkata, 'Mamah beres-beres dapur sebelum tidur, seperti Logan beres-beres mainan, ya?'. Saya mengangguk. 'Biar besok mainnya enak. Biar besok masaknya enak'.

Hahaha....

Yes....akhirnya saya memahami di masa memasuki rumah tangga kenapa si mbah membereskan piring kering tengah malam. Pikir saya.....why are you not going back to sleep? Karena posisinya kebangun. Secapek dan segilanya saya, saya wajib hukumnya merapikan dapur. Mengelap piring yang sudah kering untuk ditata di rak-nya. Esok pagi selepas sholat subuh dan bersihin badan, ya ke dapur. Menyajikan sarapan dan makanan plus camilan seharian buat keluarga.

Apa ya....ada faktor psikologis. Berantakan mempengaruhi kebahagian dan produktifitas diri. Tidak hanya dapur. Sama halnya dengan cucian. Pernah 2 hari tidak menyeterika karena bepergian. Yang ada di hari ke-3, duh! Macam habis disuruh maraton. Capek bener kakak seterika buat 3 hari. ZzzZz.

Jangan salah. Dengan 2 anak usia 3 tahun impossible rumah rapi jali. Rumah rapi jali cuma ada di imajinasi penulis novel stepford wife :D 

So?

LiLo sudah melewati masa membongkar apapun. Dulu, saya selalu mengunci lemari, laci. Sekarang saya lebih meng-cluster-kan wilayah mana bisa dia bermain. Jadi mempermudah mereka kalo beberes. Terus sebisa mungkin tidak menumpuk piring Kotor. Habis pakai, cuci. Saat memasak ,saya, ketika menunggu mendidih, memanggang, saya cuci panci. Sebisa mungkin menyapu dan seterika saya lakukan rutin.

Jadi, ada korelasi ngga ya antara kerapian dan kebahagiaan?

0 komentar: