Selasa, 22 Desember 2015

Hari Ibu

Menjadi perempuan, dramanya tidak sedikit. Masalah jerawat lah, trend fashion lah, masalah jodoh lah, begitu beranak muncul lagi drama. Apalagi kalo bukan lahir normal atau operasi, ASI atau formula, diapers atau popok kain, sampai masalah vaksinasi, sampe milih sepatu anak juga ada pro kon, oh...oh....me time piknik-piknik juga. Wuft.

Judgement seperti ini yang membuat perempuan merasa gentar untuk jujur apa pilihannya. Kayak lirik Frozen dalam bahasa Indonesia : 

jangan biarkan mereka lihat
jadilah seperti yang diharapkan
sembunyikan yang sebenarnya
sekarang mereka tahu

“To believe in your choice you don’t need to prove that other people’s choices are wrong.”– Paulo Coelho

Namun, hendaknya selalu disadari. Bersama setiap keputusan, selalu ada konsekuensi yang mengikuti. Be prepared .

Apa pun pilihannya, bertahan saja dengan keputusan yang dirasa terbaik yang sudah diambil. Kalo kata mbak JD: 'There were moments when you believed you were the smartest Mom in the world and then incidentally you were hit by the fact that someone else was doing much better somewhere out there. Suddenly, you felt lost'.

Jangan lupa, rumput tetangga selalu lebih hijau, seus. Terserah itu rumput sintetis atau dia punya gardener handal, pokoknya lebih hijau. 

lepaskan, lepaskan, tak mampu ku tahan lagi
lepaskan, lepaskan, ku berpaling menjauh
di sini ku berdiri, lepaskan, lepaskan
rasa dingin tak pernah menggangguku

ku buat jarak tuk menjauh
ku jauhkan masalahku
takut yang dulu ku rasa
kini tak ada lagi

Apa, sih, yang kita takutkan dengan menjadi jujur pada pilihannya kita? Lupakan pencitraan. Seorang ibu tetap menjadi pribadi yang utuh terlepas dari akan menjadi apa anak-anaknya kelak.

Just be your self, lepaskan, lepaskan. Seperti apa pun ‘citra Ibu’ yang kita pilih, let’s embrace our own choices. Selamat hari Ibu 


0 komentar: