Selasa, 01 September 2015

Rasa

Alhamdulillah saya dikarunia 2 anak laki-laki yang luar biasa aktif bergerak namun sayang kemampuan kognitif menakar resiko bahaya belum semaksimal kemampuan motorik kasarnya. Dan saya, ibu - yang saya nilai dari komentar teman di FB - lebay kuatirannya.

Saya pernah (tak sengaja) menabrak tiang net tenis demi menghindari anak saya terjatuh dari lapangan tenis ke selokan (jarak dari lapangan ke dasar got 2 meteran). Saya pernah terjatuh ngeblak di lantai demi menangkap anak saya yang terjatuh ketika memanjat lemari. Dan sungguh, kalo saya melihat anak saya nyerempet bahaya, ritme jantung saya tak stabil, langsung tekanan darah naik. Dulu semasa masih belum nikah beranak, saya termasuk lumayan adrenalin junkie. Bungy jumping, high speed di highway. Do i over reacting?

Sungguh percayalah saya, menjaga anak seperti itu lebih melelahkan daripada daily chores. Salah satu trick biar ngga capek (amat), saya melakukan ini. Saya berdecak kagum ketika berkunjung ke rumah orang yang punya anak balita tapi kabel berselempangan, colokan listrik di bawah, gunting di ambalan sebelah kasur, dapur diakses dengan mudah. Duh, anaknya keren banget dan pasti ibunya juga hebat bisa ngikutin anaknya kemana-mana dan ngga perlu ke kamar mandi. 

Kemarin lusa saat saya ke premier, ada anak usia 3 tahun masuk UGD karena kepalanya bocor ketimpa barang di supermarket. Ngga jelas supermarket mana. Huffttt ngilu saya dengar tangisannya dan cerita kronologi singkat dari pak Satpam. Naudzubillah *knock knock the wood* 

Siapa kira, gegar otak ringan ternyata bisa berbuntut panjang. Saya kutip dari artikel Jawa Pos, rubrik for her: Bila trauma adalah otak kiri, efeknya gangguan bicara dan gerak sebelah kanan. Berlaku sebaliknya. Bila yang terkena otak puncak yang terganggu keseimbangan.

Saya suka nonton superman return. The way the put safety amazing. Kan, kan? Rumah triplet child proof. kalo usaha semaksimal mungkin sudah dilakukan, ada pasrah dan doa. Doa orang tua supaya anaknya dilindungiNya. Udah ngga usah mendebat saya, penulis meyakini doa dan usaha harus berdampingan seiring sejalan. Jangan nyuruh do nothing just pray.

Btw, saya screen shoot tulisan mbak Kiki Barkiah. 


Semoga semua dikaruniai keselamatan.

0 komentar: