Rabu, 16 September 2015

Lain jaman, lain tantangan

Mama saya ibu bekerja. Tidak sekali diantara pembicaraan kami terselip ucapan syukur beliau memiliki sistem pendukung sehingga beliau bisa bekerja sampai memasuki usia pensiun dan keluarga berjalan baik beriringan. Beliau bekerja bukan karena tuntutan ekonomi tapi lebih karena passion. Kalau harus di rumah, beliau bisa kebosanan, katanya. Sedangkan saya dan kakak perempuan saya harus pensiun dini untuk mengurus anak-anak.

Ibu saya diuntungkan dengan menikahi anak tunggal, sehingga si mbah - ibu papa saya - tinggal bersama kami. Jadi selain pengasuh, masih ada mbah yang menjaga langsung. Seperti masalah jamak, ibu bekerja dan pengasuh itu hubungan yang penuh dilema. Tante saya juga pensiun dini karena menemukan sepupu saya diberi antimo sama pengasuhnya supaya tenang hari-hari. Itu peliknya ibu bekerja. Menitipkan buah hati ke orang lain. Selain itu, lain ladang lain belalang, lain jaman lain tantangan. Di jaman mama saya bekerja walau menduduki jabatan tinggi, jam 5 sudah sampai rumah. Masih sempat menemani saya belajar. Saya merasakan baik interaksi kami. Tidak merasa menjadi anak BLAST (Boring, Lonely, Angger/Afraid, Stress, Tired). Tidak berurusan sama narkoba juga seks bebas. Sedangkan tantangan jaman sekarang?  Load pekerjaan cenderung buanyak. PNS masih jadi staff aja pulangnya malem karena load pekerjaan tadi. Belum lagi macetnya jalan. Cukuplah menyita waktu kebersamaan.

Lalu do I feeling jealous to my mom? Nope. Ya iyalah keputusan saya didasari kesadaran diri sendiri. Saya dan kakak saya memilih tidak bekerja karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk bekerja. Titik. Jujur, saya bete dengan kesibukan ibu saya justru bukan saat saya kecil. Saya bete luar biasa ketika hamil. Kebetulan kehamilan saya tidak berhenti muntah. Di saat saya minta ditemani, beliau justru ribut ngurusi posyandu. Nelongso. Hahaha....mungkin bawaan hormon, ya.


Saya anak dari ibu bekerja dan saya baik-baik saja :-)

0 komentar: