Senin, 12 Januari 2015

Single Mom


Saya baru menyelesaikan buku ini. Cerita keempat penulis tentang pengalamannya menjadi single mother karena perceraian.

Naudzubilah *knock knock the wood*. Mungkin itu yang akan terucap. Tapi apalah mau dikata. Tidak semua hal di dunia ini mempunyai ritme yang sama, bukan?

Namun ada yang mengganggu pikiran saya. Dari keempat penulisnya, tiga mengatakan tidak disupport financial oleh mantan suaminya. Maksudnya, anak full tanggung jawab pihak ibu. How come?! Dan di kehidupan nyata saya juga mendapati cerita itu. Entah itu orang yang lebih tua atau teman saya. Saya ingat, ketika rekan kerja saya bercerita (di sela meeting) kalo sedang proses bercerai. Saya cuma berucap: 'selepas berpisah walau akan ada keluarga baru, kamu tetap harus bertanggung jawab lahir dan batin sama anakmu'. Ceilah. Anak 25th nasehatin senior 35th. Bukan apa, sukanya setelah perceraian ayah akan lenyap. Tak ada lagi uang sekolah bahkan memutuskan tali silahturahmi dengar anak karena hak asuh di tangan ibu. Alasannya klasik. He starts new family. Blah! Tapi alhamdulillah, atas ijin Allah teman saya rujuk. Rumah tangga bertahan hingga saat ini. Dikaruniai anak perempuan pula :-)

Yeah, bitter sweet kehidupan. Hahaha....saya nulis gini sambil terharu. Iya, teringat ceritamu wahai perempuan perkasa. Aku tahu. Tak apalah ketika lelah air mata itu menetes. Bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu manusia biasa *group hug*


Semoga semuanya dilimpahi kebahagiaan.

0 komentar: