Senin, 26 Mei 2014

Kain Bentenan

Bentenan adalah nama pulau dan teluk di pantai timur Minahasa Selatan. Dahulu, sekitar abad ke-15 perairan ini merupakan kawasan transit para pelaut Mangindanau, Philipina Selatan sebelum mereka menuju Ternate. Menurut legenda, keahlian menenun benang kapas diperoleh dari para pelaut tersebut yang sering menetap berbulan-bulan.

Suku Minahasa sekitar abad ke-7 membuat busana dengan menggunakan bahan – bahan dari serat kulit kayu, (disebut “fuya” diambil dari pohon Lahendong dan pohon Sawukouw), serat nanas, serat pisang disebut “Koffo” dan serat bambu disebut “wa’u”. Sekitar abad ke 15, orang Minahasa mulai menenun dengan benang katun dan hasil tenunan inilah yang dinamakan kain tenun Bentenan.

Kain Bentenan ditenun dengan teknik double ikat. Benang yang membentuk lebar kain (pakan) disebut Sa’lange dan benang yang memanjang (lungsi) disebut Wasa’lene. Teknik double ikat seperti ini adalah teknik tenun ikat dengan tingkat kesulitan yang tinggi, sangat jarang teknik ini digunakan di daerah lain. Motif yang dapat tercipta dari teknik ini akan bergambar halus, rumit dan sangat unik.

Kain bentenan ditenun tanpa terputus menghasilkan sebuah kain berbentuk silinder atau tabung. Karena proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu yang lama, kain-kain ini hanya dipakai oleh para petinggi daerah atau kepala suku untuk upacara-upacara adat. Pada masa itu penduduk Minahasa sebagian besar masih beragama animisme.



Kain bentenan sempat menghilang dalam waktu yang cukup lama. Bahkan konon katanya orang minahasa sendiri banyak yang tidak mengetahui tentang keberadaan kain berkualitas tinggi ini. Di seluruh dunia diperkirakan hanya tinggal 5 lembar kain saja yang tersimpan di Museum Voor Land en Volkenkunde, Rotterdam, Belanda dan selembar lagi ada di museum nasional jakarta. Menurut cerita kain yang berada di museum ini merupakan hadiah dari seorang pemerhati asal Belanda. Kain itu merupakan koleksi yang langka, diperkirakan berasal dari wilayah Tombulu Minahasa dan masuk ke Batavia tahun 1885. kain tersebut dinamakan Pasolongan Rinegetan dengan bentuk bulat seperti tabung yang sebenarnya terdiri dari 3 lembar kain yang dijahit menjadi satu.

Kemarin suami ngajakin bang Poltak ke Karema pas nyariin bahan bentenan buat sentanu.com ya memang mahal. Judulnya aja tenun :p Nabung dulu, ah. Ntar kalo suami mutasi meninggalkan kanwil ini diniatin beli. Hehehehe....amin ya Allah. 

Source: kainbentenan.com


0 komentar: