Rabu, 11 Januari 2012

“Tahu nggak! Kita itu nggak pernah selevel”

Pagi hari saya seperti biasanya. Menikmati secangkir teh hijau dan HRFM Jakarta sebelum memulai aktivitas. Aslinya nungguin mas Teguh di Financial Clinic. Namun…. Ada satu segmen yang membuat saya berpikir. Segmen itu merupakan segmen semacam ‘Katakan Cinta’. Ceritanya si cewe dan si cowo temenan lama. Kupikir endingnya bakalan bagus, ternyata…..

“Tahu nggak! Kita itu nggak pernah selevel” Ucap si cewek.

Mau selevel secara apa? Tingkatan social? Lha, yang kaya kan orang tuanya mbak! Mau selevel  karirnya? Mau selevel kecerdasannya? Atau selevel popularitasnya?!

Apakah begitu cara kerjanya ketika dua orang (ditakdirkan) bersama? Harus berada dalam level yang sama?
Mungkin begitu cara kerjanya. Dengan ‘selevel’ (entah aspek mana saja) komunikasi antara pasangan dapat berjalan sejalan. Paling nggak lebih mudah berkomunikasi daripada yang berbeda level. Masuk akal, lho.

Tapi…kalo merasa perbedaan level  Karena menilai diri terlalu tinggi?! Seperti, ogah sama kamu karena kamu jelek, nggak S1, sedangkan aku cantik, jalan S2. Padahal karir si cewe…gitu-gitu aja, ndak lebih baik dari si cowo. Pusing ndak ya???

Yah, sudahlah. Dimanapun level kita, nilai paling tinggi bagi saya, tetep : “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan”. Toh elevate your level selalu terbuka lebar kesempatannya ;p

0 komentar: