Jumat, 06 Maret 2015

Dear mutasi,

Benar adanya, Facebook itu ibarat orgasme, epic fail. Menjelang klimaks ada yang ketok pintu, 'Pak ada pohon tumbang di depan'. Mo diselesaikan ada yang urgent, nggak diselesaikan juga nanggung mo finish. Ya namanya juga microblogging. Ngundang kepo. Penjelasannya sak uprit. Kalo mau panjang runtut ya jatah si blog.


Btw, saya sendiri punya kesadaran. What I share is not too private. Bukan mellow-mellow pengen nimpuk pake cobek. Kalo bisa berguna. Ya paling ngga berguna ngehibur orang lah kalo belum berguna mengisi kecerdasan. Tapi Facebook dan segala perangkat sosial media lainnya itu berlaku hukum formula one, yang juga pernah saya tulis di sini. Pembaca termasuk team atau pembaca hanya penonton pinggir lapangan. Tsahhhh!!!! 

Nah, kemarin saya nulis kutipan kalimat Pak Amston Sipahutar, KASI-nya Cinta Fitri.


Unexpected banyak yang mengira kami yang mutasi. Di komen maupun nanya japri. Padahal saya sudah menulis Amston Sipahutar di belakang kalimatnya. Hehehe.... Di postingan itu saya ingin menyampaikan, the way God decided your destiny somehow mysterious but full of grace. God provides what do you need not what do you want. Aih sedapppp. Ya rupanya pesan bercabang. Banyak yang mengira kami pindah. 

Mungkin banyak yang melihat saya menderita : )) Eh, tulisan di FB menyiratkan begitu ya? I am so desperately living here. Karena ada yang japri nanya, 'Dian mengajukan pindah sendiri?', bilang, 'semoga pindah ke Surabaya aja biar ngga galau'. 

Jleb...plakk...jusss...nyesss. I am not craving the attention by being a desperately person : ))

Nelen ludah yang seret banget di tenggorokan. Aminnnn. Siapa yang nggak mau dimutasi di home based. Kasian keluarga besar saya yang jumlahnya ngga besar itu. Angkatan saya yang tersisa di Surabaya hanya Sinthia sama Dandy. Ya, Dandy statusnya kuliah. Entar kerja belum cencu di Surabaya. Sementara angkatan tua, mama dan sodaranya masuk pensiun which is mulai back to Surabaya. Jadi?! Udah kebiasa terpisah. Almarhum mbah kung saya pernah berkata. 'Sampai kapan pun, walau kita (keluarga besar yang nggak besar ini) tinggal terpisah tapi kita tetap keluarga'.

Back again. Saya galau? Ya kalo udah urusan air mati, gempa dikit, listrik somplak dan keruwetan lainnya wajarlah kalo berubah jadi hulk. Emang manusia nggak ada rasa takut? Paling ngga kuatir?! Tapi dari dulu papa dan mama saya kalo saya menemukan halangan dalam hidup saya pesannya cuma satu, 'Biarkan Tuhan bekerja dalam hidupmu'. Nggak pernah sekalipun papa mamaku sibuk nyediain a,b,c biar hidup saya mudah. Mereka membantu tapi bukan bumper saya. Dan saya mengimani, apapun yang terjadi dalam hidup saya, ada hikmah dan berkatNya yang never ending. Ya macam mana ketika di Bitung, yang walo sejam dari Manado fasilitas kesehatannya bikin deg-deg-an. Apalagi dibandingkan sama Husada Utama. Kekahwatiran itu berbuah pindah ke Manado. Which is much, much better. Alhamdulillah. Jadi se-desperate apa saya minta pindah ke Surabaya? Well, kami masih punya 28 tahun buat pindah. Don't take it too hard : )) Apa iya kalo sudah di Surabaya hilang kekahwatiran?! :-) Masak iya hidup dalam kekahwatiran 28 tahun dengan journey mutasi? Belajar dari Uwak Win. Jangan lihat kedudukannya jadi Dirjen. Sebelum jadi Dirjen beliau juga pindah-pindah :-) 

Kalo kata queen Elsa. Let it Go. Do your best and let God do the rest. Too much worry not good. Embrace it. Make it simple. Semoga lebih baik, membawa berkah lahir batin. 

No, I am not going to take it personally. Ya dianggap karena yang nanya (menganggap desperate) sebagai bentuk care ;p

Have good friday

0 komentar: