Rabu, 12 Maret 2014

Kok bisa?


Belum hilang diingatan tentang kasus kecelakaan jalan tol yang melibatkan anak usia ABG, kini publik disuguhi berita yang cukup susah dinalar. Pembunuhan oleh sepasang kekasih 19 tahun. Diduga pembunuhan berencana pula. Astagfirullah. Ini sudah bukan lagi kenakalan remaja, ini sudah ranah kriminalitas. Saya sempat kepoin timeline twitter mereka. How come they pretend? Show their sympathy as if they were innocent. Masalahnya pun -bisa kita anggap sepele- masalah percintaan. Belum lagi lihat di koran foto mereka saat intrograsi, mereka tersenyum saat kamera wartawan motret. Dan yang lebih susah dimengerti, 20 jam bersama jenazah. Bisa tidur nyenyak kah setelahnya?

What happend with both of you, kids?

Walau dari pemberitaan yang beredar, ayah Hafid juga berurusan dengan hukum karena praktek aborsi, saya rasa tak ada orang tua yang sengaja menciptakan killer. Hafid memiliki arti pelindung. Assyifa memiliki arti penyembuh. Nama anak adalah doa orang tua. Cerminan pengharapan. Saya tak tahu bagaimana hubungan mereka dengan orangtuanya, IMO, kasus ini berawal dari ketidak siapan pada penolakan. Tidak sanggup kecewa. Yang dewasa kalo tak punya ruang positif, tidak sanggup kecewa bisa bikin limbung, apalagi tidak sanggup kecewa di usia yang katanya hormon bertahta. 

Kasus ini juga punya sisi luar biasa. Bagaimana pengampunan diberikan orangtua korban. Sepanjang pemberitaan di TV, tak nampak ortunya nangis emosional. Padahal anak tunggal. Tanpa keimanan yang teguh mustahil bisa begitu. Memberi maaf. Berusaha tenang. Ikhlas. Masyallah.... lihatnya speechless. Saya ingat kalimat ortu korban: masa depan kami bersama Ade memang sudah tidak ada. Tapi masa depan kami bersama Tuhan masih ada. Kami percaya bersamaNya kami bisa melalui ini. Sebagai anakNya kita hanya bisa berusaha.

Bapak, ibu semoga berkat Tuhan senantiasa merahmati, ya. Alm. Ade Sara tenang di surgaNya.

1 kasus dengan banyak pelajaran. Semoga sudah hanya ini saja. Semoga anak-anak kita terjaga niatnya. Terjaga dari segala macam niat jahat maupun dari hal jahat. Sebagai orangtua semoga kita bisa membantu anak-anak kita menjadi pemuliaNya.

Semuanya sehat jasmani rohani.

0 komentar: