Senin, 07 November 2011

Di Persimpangan Waktu

Gambar lupa dapat dari mana

Kedua mata saling bertemu untuk beberapa saat. Entahlah. Sepertinya enam tahun yang lalu kala terakhir kedua mata ini saling bertatap. Rasa dingin langsung menyusupi hati mereka di ruangan luas ini. 

“Selamat malam Wisnu”, Sapa Estella pada akhirnya.

“Selamat malam Estella”, Suara Wisnu tercekat.

Mereka berdiri berjarak 2 meteran.

“Apa kabar kamu?” Akhirnya Wisnu mendekat dan mengangsurkan tangannya. Estella memberikan tangan kanannya. Wisnu menggenggam tangan putih itu dengan kedua tangannya. Lalu mengecup penuh hangat.

“Kau semakin besar dan terkenal di Indonesia, ya?” Senyum Estella mengembang sambil menepuk pundak Wisnu.

Wisnu merekam senyum itu. Senyum disertai binar bola mata. Ada sesuatu di dalam hatinya. “Kamu juga. Estella Rachmodjo”.

Good to see you again, Wisnu”. Ucap Estella.

Mommy, let’s go!” Tiba-tiba makhluk mungil menuruni tangga dengan setengah berlari menghampiri Estella.

Ok boy”. Jawab Estella.

Oh, is he your friend?” Tanyanya begitu melihat Wisnu.

Estella mengangguk. “Helo sir! My name is Victor Wisnu Rachmodjo”. Victor mengansurkan tangan mungilnya.

Wisnu terdiam sesaat. Ada kejutan di pertemuan ini. “Hi Victor!” Wisnu jongkok menyambut tangan mungil Victor dan mengelus kepalanya. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Estella.

Ok, We have to go Wisnu”. Pamit Estella.

Can we meet again?” Tanya Wisnu yang kemudian disesalinya.

Estella hanya tersenyum, mengandeng tangan Victor dan meninggalkan Wisnu di ruangan itu sendiri.

Hati Wisnu bergemuruh. Tak siap dia dengan kejutan ini. Sydney, enam tahun yang lalu. Victor, lelaki mungil yang ditemuinya tadi nampak sangat Indonesia sekali. Kurang lebih enam tahun usianya. Matanya?! Mata Victor seperti perangkap dirinya. Apakah?
....

“Muncul sangat cepat sekali”. Ucap Estella begitu memasuki ruang tamu kantornya. “Mudah sekali, bukan, menemukan saya?”

Wisnu tersenyum kecut atas sindiran itu. “Tak sulit menemukan Estella Rachmodjo”

“Mau kopi?”

Wisnu mengangguk.

Estelle dengan sigap menelpon melalui telpon lokal untuk meminta kopi. Setelah menelpon dia memilih duduk di sebelah Wisnu tanpa canggung.

“Apa yang membawamu kemari Wisnu?” Estella menggenggam tangan Wisnu dan menatap lekat matanya.

Wisnu ingin menghindar. Tapi entahlah. Ada magnet yang menariknya dalam tatapan mata itu.

“Pada awalnya hanya sebuah pelarian kecil dari rutinitas membelenggu. Tak tahunya bertemu kawan lama di sini.

“Apa kabar keluarga kamu?”

“Uhm...anak-anak baik” Jawab Wisnu canggung.  “Umur berapa Victor?”

Estella menghela nafas panjang. “Tiga bulan yang lalu dia merayakan ulang tahunnya yang ke lima”.

Otak Wisnu merancu kacau menghitung kala enam tahun yang lalu dan usia Victor. Lalu dia beralih ke jemari Estella. Tak ada cincin pernikahan di sana.

Seorang pria masuk membawa dua cangkir kopi. Setelah mengucapkan terimakasih, pria itu pergi.

“Tak perlu kau sibuk berpikir Wisnu” Ucap Estella. “

Dia tak mau dibilang pengecut.

“Indonesia berbeda” Tambah Estella.

Wisnu hanya bisa diam. Pikirannya berkelana ke masa enam tahun yang lalu. Selepas kegagalan pernikahannya dengan mantan istri pertamanya, Wina. Kedua putrinya ikut ibunya. Hanya Wisnu dan karirnya. Sosok muda, berbakat, dan cemerlang di bidangnya. Hingga pada suatu masa bertemu Estella. Sosok muda, keturunan Indonesia namun memilih tinggal di Australia, berbakat dalam dunia fashion. Seperti halnya cinta semasa musim liburan. Hanya adrenaline yang berpacu. Tak ada pikiran lain saat itu. Dia, Estella, dan dunia mereka saja.

“Kenapa kau tak pernah bilang?”

“Tak perlu. Aku dan Victor, cukup bagiku”. Ucap Estella dengan senyuman.

“Maafkan aku Estella”

“Mari, kita nikmati kopi ini”. Setela mengansurkan cangkir kopi untuknya.

Berdua menikmati paitnya kopi sebagaimana paitnya lekung cerita kehidupan.

“Kau sudah menikah lagi?”

Wisnu mengangguk. Lalu dia tertawa.

“Kenapa?” Tanya Estella penasaran.

“Aku menikahi perempuan dengan nama yang sama dengan mantan istriku”

“Ah, yang benar kamu?!”

Wisnu mengangguk.

“Oh, Wisnu ceritamu sungguh...uhm, aneh didengar”.

How’s he?

Victor good. Smart, independent, love drawing. He is so lovely, Wisnu”

I am so so so sorry Estella! I never know until that time

“Aku juga tak menyangka akan dipertemukan lagi denganmu”

“Stella, aku pasti sangat menyusahkanmu”

“Ha...ha...ha... don’t say like that”

“Bolehkah aku makan ice cream bersamamu dan Victor?”

“Sure”
***

“Apa ice cream kesukaanmu Victor?” Tanya Wisnu.

“Cokelat” Jawab Victor. “Pernah ke Disneyland?”

Not yet. Kamu?”

“Yup. Mommy brought me there when my birthday

“Ulang tahun ke lima aku ajak ke Tokyo Disneyland” Sahut Estella.

Do you have kids?”

“Uhm...yeah. Two daughters”.

Bring ‘em there

Estella tersenyum menatap Wisnu.

Yes, definately I will” Jawab Wisnu lirih. Tiba-tiba dia menyesali semuanya. Egonya tak lebih dari pecundang. Laras, Amy dan kini Vitor. Ketiga anaknya. “Maafkan papa, nak” Ucapnya lirih.
***

0 komentar: