Rabu, 01 September 2010

Apa yang dilihat, apa yang harus direnungkan

"Biaya 1,6 Triliun sama dengan Jamkesmas untuk 22 juta penduduk miskin"

Untuk apa gedung dibangun dilengkapi kolam renang, pusat kebugaran, dan SPA kalau jarang ada di gedung tersebut? Ini keheranan saya membaca berita di halaman depan KOMPAS. Kenapa seolah-olah tiada kecukupan. Merasa selalu kurang, kurang, dan kurang tapi tidak juga dilihat kompetensinya hingga meminta itu semua.

Saya jadi ingat perenungan akhir minggu lalu. Tanpa bermaksud membandingkan tapi saya memang melihat masalah yang sama hanya beda frame. Akhir minggu lalu di taman pusat kota, kerjasama oleh beberapa media ada bagi-bagi takjil. Saya baru kali itu melihat 'brutal'nya manusia demi dua buah kue dan satu gelas es. Saya sedih sekali. Apa yang diberikan itu tidak seberapa bagi kita, tapi kok seperti harta karun bagi yang lain.

Namun, lagi-lagi menjadi keheranan saya. Berapa banyak sih manusia sekali makan? Orang yang sama meminta lebih dari 3 kali. Belum lagi bapak-bapak dengan badan kekar memaksa mengambil dan begitu diperhatikan dia hanya diam merasa tidak bersalah. Saya memaklumi, mungkin takjil itu akan diberikan kepada anak, istrinya di rumah. Tapi seberapa besar keluarganya?

Dua kejadian dengan benang merah yang sama. Merasa kurang, kurang, dan kurang. Ukurannya tidak hanya dirinya tapi semua keluarganya. Wajar juga kalo wakil rakyat masih mau fasilitas SPA. Mungkin gajinya tidak bisa untuk SPA karena harus membiayai keluarga. Tidak hanya keluarga inti tapi juga extended-nya. Ntahlah...ukuran DPR maupun pemulung yang berebut takjil hanya dirinya yang tahu. Hanya sayang. Kalo memintanya terlalu berlebih apa nggak kasian sebelah-sebelah belum kebagian?

Hah!!! Menghela nafas panjang. Kadang memang butuh 'pause' diri untuk selalu mensyukuri dan berterimakasih kepada Tuhan Maha Segala. Bukan karena rasa syukur saja tapi jadi tali kekang ketika saya merasa kurang,kurang, dan kurang. Ayah saya mengajarkan, dalam doa utamakan berucap syukur bukan dari awal hingga akhir meminta padaNya, karena Dia lebih tahu apa yang kamu butuhkan. *Peluk pak Naryo. Ayah saya mengajarkan "Renungkan kehidupanmu sebelum tidur. Sudahkah kamu berjalan dalam firmanNya? Bisakah kamu menghitung nikmatNya?"

Apa lagi yang kurang kalau kau punya matahari dan udara? Ah, Tuhan peluk aku selalu. Ingatkan aku untuk selalu bersyukur padaMu karena saya percaya, engkau selalu menggenapi janjiMu ^_^

Have good day!!!

0 komentar: