Sabtu, 24 November 2012

Ketika Keputusan Itu Harus Dibuat

Perjalanan 'spiritual' saya menjadi gemeli menjadi pengalaman paling luar biasa dalam hidup saya sebagai seorang perempuan. Sedikit catatan tertulis di sini. Cerita awal kehamilan yang rada ala-ala reality show. Gimana tidak. Datang ke dokter kandungan untuk pemerikasaan rutin. Lha, kok USG TV dokter melihat adanya kantung janin. Saya memaksa lagi untuk USG Transvaginal dan masih juga memaksa tes laboratorium (--"). Bukan. Bukannya saya menolak kehamilan ini. Tapi kondisi kesehatan hormonal saya membuat saya lebih realistis akan kemungkinan mengalami kehamilan alami. Hahaha...kalo diingat-ingat drama lalu itu....ah.

Tahun 2008. Saat itu memang dari pertama menstruasi saya mengalami masalah di luar siklus normalnya. Tahun 2008 itu saya serius memeriksakan keadaan organ reproduksi saya. Ya tadi, mengingat rada out of ordinary. Kemungkinan untuk hamil alami persentasenya agak kurang dibanding kondisi normal. Rasanya saat itu?! Sok kuat tapi sebenarnya.....remuk. Gimana sih rasanya 'dihakimi' lu susah punya anak. Glek! Apalagi saat itu saya memasuki stage serius dengan Cinta Fitri. Ngok to the max deh. Saya memilih terbuka, jujur dengan kondisi saya. Alhamdulillah.....Cinta Fitri hatinya seluas lingkar perutnya. Entah bener tulus atau kasian sama saya :)) Tapi masalah nggak kelar sampe situ. Saya paksa Cinta Fitri cerita kondisi saya ke mamanya. Ya, naudzubillah jangan sampe dalam hidup saya ada cerita melankolis ala sinetron yang ibu mertuanya ngamuk ke menantu karena tak kunjung memberi keturunan *korban sinetron*. Alhamdulillah lagi mama mertua udah kenal namanya IVF, insem buatan, dan adopsi *Sujud syukur. Nikmat mana yang engkau ingkari, Prim* Dan menikahlah kami di tanggal 17 November 2011.

Setelah menikah? Cinta Fitri yang baik hati itu kalo doa bersama selalu bilang, jadikan kami orangtua yang bijaksana. Ndak berani minta supaya saya hamil :p Tapi di sisi kehidupan, sebagai perempuan yang lagi-lagi sok tegar, saya juga deg-deg plas kalo ditanya "Sudah isi?" Kriukkkk...grokkkk....gubrakkkk.... Sempat saya sensi tingkat kabupaten gara-gara teman, yang sebetulnya tahu kondisi kesehatan saya, memberi tahu kalo dia telat tapi belum test. Dan dia menanyakan apakah saya ndak nyoba test pack?! Nyoba test pack? Menstruasi saya saat itu acak adul dan dia bertanya begitu. Untung sahabat-sahabat gila saya Lala dan Darling Ophie menjadi menghangat jiwa *Dangdut banget*

Selama kehamilan gemeli memang tidak terlalu 'terexposed'. Secara gemeli itu double blessing sekaligus double risk --" Alhamdulillah saya di bawah pengawasan tim dokter yang luar biasa menangani dengan hati. Bahkan katanya, kehamilan kembar mencapai usia kehamilan 36 Minggu itu jarang. Extra luar biasa supaya kedua bayi ini lahir dan bisa bertahan tanpa bantuan alat-alat. Alhamdulillah All is well. Bahkan dr. Poedjo optimis saya bisa lahir normal.

Lalu kenapa SC?

Jadi hari kamis, 15 November saya kontraksi tiap satu jam dan keluar flek semacam mens. SMS dr. Poedjo disarankan segera ke Husada Utama. Namun....belum ada pembukaan. Yawis, numpang makan siang aja di sana :))

Tanggal 17 November yang kebetulan anniversary kami. Maunya hari itu merayakan dengan makan sate padang. Tapi apa daya....subuh saya mau bangun tapi panggul saya nggak bisa gerak apalagi bangkit. Dipapah ke kamar mandi. Flek lebih banyak dari hari kamis dan kontraksi hitungan 15 menitan. Pede ada pembukaan? Ooo...tentu tidak. Manggil bidan dulu buat cek. Kan bener....belum ada pembukaan. Dari bidan tersebut baru tahu kalo gemeli kontraksi seperti itu bisa berlangsung 2 mingguan. Glodak!!! Kalo orang hamil 1 bisa saja sudah pembukaan. Mulai galau. Saya berkeras kepala mau melahirkan normal. Apa daya...jam 10 pagi, kontraksi sudah 5 menitan. Cinta Fitri menyerahkan segala pilihan ke aku sebagai pemilik tubuh. Namun dia bilang. "Kamu jangan mikir sakit, nggak sakit. Normal apa cesar. Tapi Nyawa. Ketiga nyawa ini penting buat saya".Kadang gendut gitu bijaksana juga dia.

Buru-buru ke RS dengan meringgis menahan asoynya kontraksi. Sampai di sana, pemeriksaan dalam lagi sama bidan Husada utama, belum ada pembukaan. Diperiksa dokter Nova juga sama....dan terakhir jam 21.00 dr. Poedjo sendiri memeriksa....dan ga ada pembukaan. Permeriksaan dalam saat kontraksi oleh....uhm...4 orang itu kriukkk. Morfin mana morfin.

Rasio saya bekerja. Melahirkan alami butuh tenaga. 2 minggu bangun dari kasur aja ga mampu....apa sanggup mengejan mengeluarkan 2 bayi. Yah....begitulah ceritanya. Minggu, 18 November 2012 diputuskan SC.

Ulang tahun pernikahan pertama yang tak terlupakan. 12 jam lebih merasakan asoynya kontraksi tiap 5 menit sekali. Hehehe....panjang ya ceritanya? :p

0 komentar: