Selasa, 26 April 2011

Sepenggal cerita dan sebuah pengharapan


Sedikit cerita. Sejak awal tahun ini saya "in - house - trainning" di dunia pendidikan. Dunia yang jauh dari dunia hiburan penuh gemerlap. Sebenarnya agak sulit saya menangkap maksud rencanaNya, kenapa berakhir di dunia pendidikan terlebih konsentrasi di pendidikan anak usia dini. Baru akhir-akhir ini saya mulai mencerna maksudNya. Ternyata membesarkan seorang anak, tidak sekedar diberi makan, minum, dan dibuat happy. Membesarkan anak adalah kontrak mati antara orangtua dan Sang Pencipta, juga bentuk kewajiban supaya anak bisa hidup nyaman dan membuatnya berhasil menjawab tantangan dunia kelak.

Well, saya belum menikah apalagi beranak tapi saya percaya teori golden-age. Fakta, ini krusial sekali bagi pertumbuhan seorang anak. Makanya mama dan papa baru sering sudah memasukkan anaknya ke playgroup, baby school, toddler school what ever they called it sejak usia 2,5 tahunan. Kalo di kota besar (khususnya jawa) tentu akan dengan mudah memilih sekolah. Secara beragam jenis sekolah ditawarkan. Mo bilingual, nasional plus plus, berbasis agama, bla-bla-bla. Bagaimana dengan di luar Jawa?

Pengalaman beberapa bulan belakangan ini membuat saya miris. Tempat saya bekerja adalah sebuah jasa manajemen pendidikan. Klien kami adalah pemilik sekolah. Betul, saya buta sama sekali tentang kurikulum, tumbuh kembang anak, psikologi anak, apapun tentang anak. Saya di sini mengambil peran 'memoles' dari segi PR dan bisnisnya.

Dari banyak klien, saya kedapatan masuk tim yang menangani sebuah sekolah di Banjarmasin dan Kisaran. Keduanya sekolah yang lumayan punya nama di tempat masing-masing. Namun, sungguh bikin sedih. Gedung boleh sama megahnya dengan yang di Surabaya, tapi SDM masih sangat kurang jauh dibanding di Surabaya. Padahal SDM rata-rata sarjana S1. Apa yang salah di sini?!

Mamanya Cinta Fitri suka nakut-nakutin saya -katanya sih untuk uji mental saya :p- bahwa di daerah itu kalo jadi ibu harus super kreatif agar anaknya nggak ketinggalan sama pendidikan di Jawa. Waktu dikasih tahu gitu saya sih dalam hati bilang : Ya mama, itu kan tahun 90an, sekarang kan pemerataan pembangunan. (Dan...damn! calon mertua gua bener nih :p)

Jadi ingat, sebulan lalu manajemen melakukan rekruitmen untuk calon guru. Ada anak dari Ende, dia pintar. IPK bagus (lulusan PTN ternama di Surabaya) dan tesnya memuaskan. Ketika HRD nanya: Kamu penempatan di Ende, ya? Si anak terang-terangan menolak. Alasannya, maunya di Jawa saja karena maju (ada mall, listrik ga hidup mati, gaul lah). Nggak salah juga, sih. Di jaman serba matrealistik memperjuangkan diri sendiri lebih penting. Tapi kalo nggak ada yang mau balik ke daerah masing-masing? Siapa yang mau buat kemajuan di sana?

Saya sering hilang kesabaran saat transfer ilmu. Kesel karena hal remeh temeh begini kenapa nggak ngerti-ngerti. Tapi inilah pekerjaan. Harus melayani dengan hati. Dan akhirnya saya sadar. Ketika mereka mengerti, mereka akan mempraktekkan ke anak-anak didik mereka. Ketika anak-anak didik itu cemerlang ada harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Bisa jadi kelak anak-anak saya tidak tumbuh besar di Jawa, tapi sebagai orang tua saya harus bisa membuat mereka menjawab tantangan hidup. Syukur-syukur mengantarkan mereka berkarya di silicon valley, merumput di eropa, atau jadi sutradara di Hollywood sana :p

Saya salut sama orang - orang di sini. Ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mewujudkan Indonesia cemerlang dari sabang sampai merauke. Bukan dengan menunggu pemerintah tapi bersama-sama bisa mewujudkan Indonesia lebih baik.

0 komentar: