Kamis, 16 September 2010

Karena cinta

Memilih siapa jodoh kita itu adalah hak azazi, tak ada yang boleh melarangnya.

Tapi....

Bagaimana jika pilihan kita itu salah ?

Amy berdiri mematung di depan rumah berpohon cemara itu. Cukup lama. Kakinya tak kuasa melangkah masuk. Di pegangnya tas hitam yang menggantung di pundaknya erat-erat, seakan-akan mengalirkan rasa ketakutannya.

Tanda-tanda penghuni rumah hendak keluar. Amy bergegas pergi. Bersembunyi di ujung tembok. Dari ke jauhan memandang mobil si pemilik rumah pergi. Menghilang hingga pertigaan. Amy hanya bersandar pasrah. Sementara terik matahari membakar kulitnya.

***

Amy duduk memuta-mutar cangkir kopi di hadapannya. Sesosok wanita menghampiri dirinya, menarik kursi tepat di hadapannya. Perempuan itu menggenggam tangannya erat.

“Saatnya kamu memilih”. Ucap perempuan itu.

Amy memandang ke arah luar jendela. Guratan sedih tercipta di wajahnya. Dia beralih memandang perempuan di hadapannya. “Empat tahun kukumpulkan keberanianku. Tapi apa yang terjadi?” Amy menunduk. Air matanya mengalir. Tak ada isak. Sepertinya dia terbiasa menangis dalam diam.

Mereka saling terdiam cukup lama. Amy mengusap air matanya dengan tisue. “Zeta, antarkan saya.

Zeta tersenyum. Mengangguk.

***

Saya, Amy Fauzi. Saya isteri dan ibu dari satu anak. Saya bekerja dengan jabatan mencukupi. Seorang Creative Director sebuah agency periklanan. Saya selalu mengaku menjadi perempuan kuat, mandiri, dan modern di masyarakat. Memasang topeng itu bertahun-tahun. Tapi nyatanya, topeng itu memberatkan. Saya menipu diri saya sendiri selama bertahun-tahun. Kemana hak azazi yang dulu saya gembar-gemborkan dengan lantang di depan ke dua orang tua saya? Kemana keyakinan saya dulu? Apakah saya sudah dibutakan? Iya, saya sudah dibutakan. Dibutakan oleh cinta.

***

“Bik, dik Indra sudah tidur?” Tanyaku pada bibi yang sedang nonton sinetron di dapur.

“Iya, bu. Ibu mau saya panasin makanan?”

Aku menggeleng. “Saya sudah makan”.

Jam sembilan malam

Begitu membuka pintu kamar didapati suaminya main playstation. Tak sedikit pun menghiraukan kehadirannya. Membersihkan make up yang menempel di wajah tanpa berucap satu patah kata pun. Walau sebenarnya hatinya menangis. Pulang lembur mendapati kamar tidur berantakan dan suami justru cuek main playstation.

“Lembur apa lembur kamu?” Ucap Mahen.

Amy meliriknya dari cermin. “Ada deadline”.

“Halah! Palingan casting model-model muda”.

Amy beranjak dari duduknya ke kamar mandi. Menyalakan kran shower kuat-kuat untuk meredam tangisnya.

***

“Apa ini?!” Mahen tiba-tiba masuk ke ruang kerjaku.

“Mir, kamu keluar dulu”.

Mereka menunggu hingga Mirna keluar.

“Apa ini?!” Mahen melempar surat ke wajah Amy.

Surat dari pengadilan agama. Amy melipatnya.

“Iya”. Ucap Amy pelan.

“Kenapa? Mentang-mentang aku nggak berpenghasilan? Mentang-mentang kamu manager? Berkedudukan? Perempuan yang nggak nurut suami”.

“Saya capek bertengkar. Bertengkar tidak menghasilkan solusi. Ke pengadilan agama tak mesti bercerai, ada penasehat pernikahan”

“Halah! Omong kosong. Direktur mana yang sudah kamu gaet Amy?”.

“Maksud kamu apa?”

“Iya kan?! Ada laki-laki lain?”

Amy menggeleng perih. “Empat tahun pernikahan, hanya tahun pertama saja saya punya suami”.

“Heh?!”

“Sejak bapak meninggal dan kamu tak punya pekerjaan tetap, tidak sekali pun kamu menafkahi saya. Biaya kelahiran Indra saya yang menanggungnya. Untung saya masih waras untuk tidak menuruti keinginanmu untuk resign. Mau makan apa kita?”

“Dasar perempuan matre! Ada uang abang kau sayang, nggak ada uang abang kau tendang”.

Amy bangkit. “Jika aku senaif itu, aku sudah bercerai darimu sejak tiga tahun yang lalu”.

“Ooo...beranijadi keinginan cerai sudah sejak dulu?!”

“Saya memang bodoh. Bodoh sekali”.

***

“Enak ya jadi kamu Zeta!”

“Aku?”

“Suami yang mendukung, usaha yang maju”.

Zeta tersenyum. “Jangan kau lihat orang lain My. Koreksi diri”.

“Yah, seandainya saja. Aku bisa berpikir jernih saat itu. Bisa menekan perasaanku bahwa tak ada pria lain mau denganku selain Mahen”.

“Jangan menyesali yang sudah lalu.

“Betul katamu. Pernikahan itu no point to return”.

Mereka saling berdiam.

“Mencari pria yang bertanggung jawab, nggak ego tinggi, nggak malas”. Amy menangkup tangannya. “Aku sebenarnya masih mencintainya tapi aku takut masa depan Indra. Aku nggak mau dia jadi bajingan seperti ayahnya”.

Zeta tersenyum.

“Maafkan aku Zeta. Aku dulu tak mendengarkanmu”.

Zeta menyandarkan tubuhnya. “ Diberi emas itu memang indah, tapi seminggu sudah bosan. Beda ketika diberi pena, kita harus terus berusaha menuliskan begitu juga jodoh”.

“Demi Tuhan, bukan karena harta aku mencintainya. Ntahlah apa penyebabnya”.

“Aku tak menuduhmu matre sayang. Maksudku, dulu kamu melihat Mahen masih ada orang tuanya yang kaya, menyokong dia dengan kemanjaan. Kamu pikir Mahen bisa berubah meniru keberhasilan ayahnya. Watak orang susah dirubah”.

“Aku terlalu heroik. Sok yakin kalo Mahen bisa menjelma seperti ayahnya. Bijaksana, bekerja keras untuk keluarganya. Ternyata perubahan itu tak segampangnya”.

“Manusia bisa berubah. Tapi itu dari hatinya. Kalo Mahen mencintai kamu dan Indra, ketika bangkrut dulu, pasti dengan sigap dia bekerja apa adanya. Bukannya kamu membanting tulang tapi dia enak-enakan main playstation”.

“Aku dibutakan cinta”

“Ntahlah. Seorang Amy Fauzi, panen berjuta penghargaan dalam dan luar negeri tapi terlalu lemah memperjuangkan nasibnya. Itu yang bikin aku gemes”. Zeta tertawa.

“Kamu nggak mau menampar aku dulu”.

“Kamu menghindar. Aku sebagai sahabat tak berhak mencegah. Hidupmu pilihanmu. Aku hanya bisa suport dan mendoakan”.

“Aku sanggup malu demi harga diriku, walaupun itu justru menyiksaku lebih dalam”.

“Lalu gimana selanjutnya?”

“Berbicara sama ibuku. Meminta ampun. Juga ke almarhum ayah dan bapak mertuaku”.

“Kenapa tiga tahun ke kacauan pernikahanmu kamu sembunyikan dari keluargamu? Toh, kakak-kakakmu pasti mau ngasih Mahen pekerjaannya”.

“Mahen terlampau sombong. Takut balas budi. Dan akhirnya aku ikutan bodoh”

“Sudahlah”.

Kedua sahabat itu saling berpelukan. Sementara senja semakin tengelam.

***

Amy memberanikan melangkah masuk ke rumah berpohon cemara itu. Sosok perempuan sedang menyiram tanaman.

“Ibuuuu!!!” Amy memeluk perempuan yang menjelang senja.

***

Mereka berdua saling diam.

“Amy, ya sudahlah. Memang jalan nasibmu begitu. Ibu tidak marah, tidak juga merasa menang karena pendapat ibu benar tentang Mahen. Yang penting, kamu bangkit! Untuk Indra dan masa depan kamu masih panjang”.

“Bu?!”

“Menentukan jodoh adalah pilihan dan hak azazi, tetapi melihat lebih dalam juga penting. Bibit, bobot, bebet bukanlah sekedar petuah kuno”.

“Maafkan Amy, bu!”

“Pulanglah kembali ke rumah nak!”

***

Setiap pilihan selalu punya konsekuensi...

By: Primadika

0 komentar: