Selasa, 20 November 2018

Kenapa Menulis Blog?

Daku tuh benernya suka merasa kompetitif, termasuk dalam hal tulis-menulis. Kadang kalo baca artikel atau editorial bagus, selalu merasa, "Bisa sih bikin sekreatif ini. Tapi males mikirnya". Eaa...males kok ngaku-ngaku. Hahaha. Nggak sih, tapi lebih ke media kagak mau muat tulisan ik. Jadi blog sebagai alternatif pelampiasan hasrat menulis. Atau media curcol?

Dulu nulis fiksi itu mudah bagi saya yang memang suka ngayal-ngayal ga jelas. Nasib tulisan fiksi saya (agak) lebih beruntung daripada artikel ala-ala. Pernah dimuat di Gadis, Cita Cinta, Kawanku. Eh, majalah-majalah ini masih ada ngga, sih? Seiring asam garam kehidupan mulai tercicipi, daya khayal mulai tergerus realita kehidupan yang manis asam asin, rame rasanya *You sing, you failed*. Hahaha.

Awal dulu sebenarnya aku itu tertarik nulis-nulis horor ala-ala RL Stine tapi ngga pernah berhasil karena keburu parno sendiri. Maklum penakut anaknya. Kok bisa ya penulis horor itu punya ide cerita begitu, hidupnya haunted ngga sih?

Pernah dengar menulis sebagai terapi? Sayangnya, di penelitian yang saya baca, menulis yang dimaksud yang melibatkan bolpoin dan kertas, bukan yang pencet-pencet tuts keybords. Tapi kalo saya pikir-pikir (dan simpulkan sendiri) harusnya bisa ditarik garis. Selama menulisnya tentang perasaan, tentang pengalaman, harusnya dapat membantu kita melepas stres. Ya ngga?

Berikut short story yang baru:

Nara

Nara memasuki kedai kopi langganannya. Semerbak harum kopi menyeruak begitu dia memasuki kedai kopi mungil di ujung jalan. “Cappuccino”. Ucapnya pada sang barista. Tanpa banyak bertanya sang barista meracik kopi kegemaran Nara. 1/3 espresso, 1/3 steamed milk, 1/3 milk froth.

Pic From Here

Nara duduk di tempat biasanya. Di depan jendela yang menghadap laut. Jalanan memang sepi ketika hari baru mulai. Beberapa pelanggan tetap lain menyapanya, untung hanya sekedar say hi tanpa pernah mengobrol lebih panjang. Ini adalah waktu, kesempatan baginya untuk sendirian, tersesat dalam pikirannya sendiri sebelum hari dimulai.

Nara mengangkat kepalanya begitu mendengar pintu kedai dibuka. Lonceng kecil yang menempel di pintu  bergemerincing tanda ada orang datang atau pergi. Sosok baru yang belum pernah dia temui di kota kecil ini. Selepas mengambil pesanannya, pria itu mengambil tempat di seberang ruangan. Mengeluarkan headset, buku, lalu tengelam di dalamnya sambil sesekali menyesap kopinya.

Hari-hari berlalu. Rutinitas itu terus berulang. Nara dan pria yang duduk di seberang ruangan. Sibuk dengan cerita masing-masing tanpa pernah bertegur sapa. Namun pagi itu berbeda. Pria itu menghampiri meja Nara, “Boleh duduk di sini?” Tanyanya. Nara mengernyitkan dahi heran. ½ meja di kedai ini kosong, mengapa harus berbagi meja. “Silahkan”. Jawab Nara. Dia sendiri heran dengan jawabannya. Belum pernah sekalipun dia mencoba berinteraksi dengan pengunjung lainnya, bahkan dengan barista. Hanya sekedar ucapan, “Cappuccino”. Namun pagi ini berbeda. “Saya Michael”. Pria itu mengulurkan tangannya. “Nara”. Jawab Nara dan menyambut tangannya.

Pagi itu berbeda, esok pun terulang, begitupun esoknya lagi. Kini Nara tak lagi duduk sendiri. Dia dan Michael selalu berbagi meja di pagi hari. Terkadang gelak tawa atau argument kecil mewarnai.


Tidak ada komentar: